logo

bg-h4-whiteKolumnis

Sabtu, 01 Jul 2017 | 10:10

"MOGE MASUK TOL, MENURUT SAYA KONYOL"

Penulis : Jusri Pulubuhu
img1

img1

Jusripulubuhu

Kali ini saya akan menanggapi kasus viralnya video moge masuk tol.

Subjek yang memang diduga pengguna Moge (Motor Gede) dengan bangganya memasuki tol yang diperkirakan arah Tomang-Cilegon, pada malam hari. 

Pengguna Moge ini juga diindikasi menggunakan tipe sports bike, terdengar dari suaranya.

Jika saya harus menanggapi kejadian ini, memang menunjukan pengguna moge tersebut memasuki area terbatas yang seharusnya hanya boleh dilalui oleh kendaraan roda empat atau lebih.

Kalaupun sepeda motor melintas di jalan tol sebenarnya hanya diperkenankan oleh petugas yang berkepentingan.

Kalau kita lihat motifnya, terlihat dari suara audio pemoge yang terekam pada malam hari itu  "Saya masuk tol, saya masuk tol" ini merupakan bentuk manivestasi eksistensi seseorang yang masih muda di bawah 30 tahun kebawah, yang ingin menunjukan keberanian. 

Dan jujur, apa yang dia lakukan adalah hal yang gila dan konyol.

Karena bagaimana pun secara aturan undang-undang lalu lintas angkutan jakan raya nomor 22 tahun 2009, hal ini tentunya dilarang.

Sebab, kejadian ini sangat membahayakan, terutama jika kita lihat dari visibilitas yang terlhat pada kamera yang tertempel pada helmnya, visibilitas pemoge ini begitu gelap.

Sementara kita tahu kondisi di tol Indonesia sendiri tidak setertip seperti yang kita kira.

Tidak seperti karakter pengguna kendaraan di luar negeri yang mereka selalu konsisten di jalurnya, di sana menajemen speednya juga baik.

Tapi di sini pengguna tol kebanyakan tidak tertib, bisa saja motor tersebut terpotong oleh kendaraan-kendaraan lain yang pindah jalur tanpa memberikan sinyal.

Di kasus ini sebenarnya dia membahayakan dirinya sendiri, dia bisa menjadi korban atau penyebab kecelakaan buat orang lain. 

Intinya peluang terjadinya kecelakaan sangat tinggi.

Misalkan dia kecelakaan lalu dia mati, bisa saja permasalahan hukumnya tidak berhenti sampai disitu.

Pengemudi lain yang terlibat kecelakaan ini bisa saja terkena sanksi hukum karena kurang antisipatif terhadap sekeliling, misalnya.

Loh kok bisa, padahal asumsi kita tol memang untuk kendaraan roda empat atau lebih?

Pada kasus ini jika asumsi kita samakan dengan penyebrang jalan yang menyebrang di jalan tol, yang juga merupakan aktifitas ilegal, besar kemungkinan, pemobil bisa terlibat bersalah, jika digali dari undang-undang lalu lintas yang ada.

Misalnya ketika pemoge kecelakaan atau pun dia tewas, secara hukum dia tetap menyusahkan orang lain yang harusnya berposisi sebagai korban.

Di luar itu ketika pemoge itu meninggal, yang terjadi masa depan mereka akan terganggu, katakan ia kepala punggung keluarga.

Jadi untuk kita yang akan mengulangi aktifitas ini silahkan pikirkan kembali moralitas tanggung jawabnya.

Kejadian ini di mata saya yang juga sebagai Pemoge

Tidak semua pemoge berprilaku liar.

Ini adalah oknum, tidak semua pemoge mau dengan sadar atau tidak sadar melakukan hal semacam ini.

Tidak semua pemoge mempunyai karakteristik seperti pelaku.

Lantas bagaimana kita lihat saat sekarang adanya suara pemoge meminta untuk mendapatkan fasilitas akses masuk jalan tol? 

Sebelum kita berbicara itu, mungkin pihak pemerintas bisa melihat dengan tidak perlu merubah undang-undang lalu lintas yang ada.

Misal, minimal 10 orang bikers minta dikawal masuk tol, dengan diskresi, pertimbangan kenyamanan, keamanan, keselamatan bukan hanya bagi pemoge tapi bagi masyarakat pengguna jalan lain, maka idelanya diperkenankan.

Dengan catatan dengan kuantitas misalnya 10 orang, motor harus dikawal di depan dan belakang, dengan dikawal petugas.

Di satu sisi bisa menambah income secara resmi untuk lembaga bersangkutan.

Misalnya untuk moge, jika kita pukul rata pemilik moge di Indonesia rata-rata adalah ekslusif, jadi untuk masuk tol bisa kita berikan cas dari Rp 150 ribu, misalnya. 

Kalau tujuannya untuk kenyamanan, keamanan tidak menyalahkan hukum, bisa saja.

Terkait dengan keinginan pemoge supaya mempunyai akses masuk tol, mernurut saya sebaiknya perlu dipertimbangkan lagi.

Kalau kita (pemoge) masuk ke tol sendiri sangat beresiko, karena pengguna jalan tol di sini juga belum tertib. 

Kita bisa lihat, budaya kita tentang kecepatan di tol belum pasti.

Ada yang 40, 60, 90,100, bahkan 120km/jam jam pada speed limit yang sudah ditentukan 80 km/jam, misalnya.

Jadi dengan kondisi seperti ini, proteksi terhadap kendaraan roda dua tidak ada.

Patut diketahui, pada motor jika terjadi senggolan maka akan terjadi full body contact ke aspal, bumper ataupun terlindas truck, resikonya adalah kehancuran, kematian pada pemoge.

Kalau pun kita mau mengajukan previlege harus ada aturan yang jelas, misalnya minimal 10 orang dan dengan pengawalan.

Kalau tidak akan merugikan pemoge.

So, kesimpulannya kejadian viral moge masuk jalan tol adalah kejadian yang konyol sekali, luckly kalau dia selamat, padahal keselamatan bukan keberuntungan.

Dalam keselamatan berlalu lintas harus ada upaya.

Yang dihasilkan dari usaha unutk berkendara aman, ketrampilan, dan doa tentunya.

Dan dia adalah oknum, saya rasa semua pemoge yang memili tanggung jawab akan menyesali prilaku seperti ini.

Semoga saja kasus ini tidak terulang lagi.(OTOJURNALISME.COM)

 
Kolumnis adalah fitur citizen journalism, setiap konten (teks, foto, video dan infografis) menjadi tanggung jawab kolumnis (penulis) itu sendiri. Redaksi Otojurnalisme.com tidak bertanggungjawab atas segala tuntutan dari pihak manapun atas konten yang ditayangkan oleh kolumnis.
SHARE THIS ARTICLE :

Profile

Jusripulubuhu
Jusripulubuhu.otojurnalisme.com

Join Date : Senin, 30/01/2017 19:18

Pojok Kolumnis


ARIPITSTOP
Aripitsto
Elang
Elang
Dhika
Dhika
OtoXplore
Otoxplore
Rilis
Rilis
Mr. OtoMen
Mr. Otome
SW218
Sw218
Jusripulubuhu
Jusripulu

Video

Top Artikel Kolumnis

img1
Minggu, 15 Apr 2018 - 18:45 wib
Soerobojo Cub Day 2018 Pestanya Classic Cub Series
img1
Selasa, 17 Apr 2018 - 09:00 wib
Cara Mudah Biar Mobil Gak jadi Sarang Tikus
logo1

OTOJURNALISME.COM adalah portal berita otomotif pertama di Indonesia yang mengkolaborasikan konten JURNALISTIK dan ulasan para KOLUMNIS yang expert di bidang otomotif
Alamat : Jl. Tanjung Barat Raya No. 11 A Jakarta Selatan - DKI Jakarta - Indonesia
Telp: 021-22701245
email: [email protected]
Facebook
Twitter