logo

bg-h4-whiteKolumnis

Kamis, 13 Apr 2017 | 13:20

KETRAMPILAN BERKENDARA BUKAN PRIORITAS UTAMA

Penulis : Jusri Pulubuhu
img1

img1

Jusripulubuhu

JAKARTA - Ketrampilan merupakan sebuah rangkaian persyaratan dalam mengoperasikan sebuah sepeda motor. 
 
Tapi nyatanya mayoritas kecelakaan lalu lintas di jalan raya membuktikan ketrampilan berkendar ternyata  bukanlah di atas segalanya.
 
Persyaratan utama mengoperasikan kendaraan bermotor di jalan raya dengan aman, trampil & benar adalah pemahaman (soft skill) atas bahaya Resiko yang dihadapi & cara menyikapinya. 
 
Kemampuan teknik seperti bergerak, bermanuver, menikung, menyalip dan mengerem diperoleh dari pembelajaran dengan metoda training  yang tepat dan latihan terus menerus. 
 
Sebab beberapa contoh kecelakaan di jalan raya yang banyak terjadi justru datangnya dari pelanggaran.
 
Misalnya ; Ngebut atau terlalu cepat dengan kondisi, menyalip diarea – area yang tidak aman atau tidak diperbolehkan, melintasi persimpangan dengan tidak hati-hati, menerobos lampu pengatur jalan yang sedang merah, mengoperasikan motor yang tidak layak dioperasikan, bahkan mengedarai motor tanpa SIM dan semua itu adalah bentuk pelanggaran!
 
Maka dari itu kemampuan tekhnikal dan soft skill harus ditingkatkan seiring jam berkendaraan bertambah, latihlah tekhnik – tekhnik dasar baik diarea tertutup maupun saat sedang berkendaraan secara normal, pahami segala objek, kondisi disekeliling kendaraan yang terlihat kemudian review dari kejadian – kejadian yang hampir menyebakan kecelakaan (near misses) pada perjalanan terakhir.

 

Selanjutnya, lakukan koreksi agar kejadian – kejadian yang hampir menyebakan kecelakaan sebelumnya tidak terulang pada perjalanan berikut. 
 
Dengan kata lain safety riding adalah “Life Skill Training”, latih dan terus berlatih.
 
Pelanggaran  - pelanggaran yang disebutkan pada paragraph sebelumnya adalah bentuk kualitas dari soft-skill. 
 
Kebanyakan yang terjadi pada seseorang ketika menghadapi bahaya, yang dia lakukan hanya sebatas naluri dan logika saja tanpa adanya referensi dari sebuah pedoman (SOP/Standard Operation Procedures). 
 
Tidak  seperti ketika kita mengawali pekerjaan di sebuah perusahaan selalu ada prosedur yang harus dilakukan. 
 
Dalam konteks berkendaraan di jalan raya dengan kendaraan bermotor, lebih – lebih mengoperasikan sebuah sepeda motor besar, perilaku diatas adalah sebuah perilaku tidak aman, membahayakan dirinya dan orang lain. 
 
Maka dari itu kemampuan akan pemahaman bahaya dan resiko penting diperoleh dari sebuah pelatihan, dari sumber yang tepat, sehingga ketika ketika kita mereponse nya ada tahapan- tahapan yang harus dilalui, tidak spontan atau berdasarkan naluri semata, bukan karena keberuntungan semata namun diperoleh dari sebuah analisa dan proses tindakan yang tepat.
Salah satu teknik mendirikan moge, yang bisa didapatkan dalam pelatihan.

Mata pengendara jika diibaratkan sebuah lensa camera, ketika berkendaraan menerima ribuan informasi yang ditangkap dari objek – objek statik (Pohon, Mobil yang sedang parkir dibahu jalan, rambu lalu lintas,dll) dan dinamik yang tidak terjangkau mata (Mobil, Motor yang datang dari arah berlawanan, Penyebrang yang sedang melintasi badan jalan, pejalan kaki dibahu jalan, anak-anak yang bermain bola dipinggir jalan, Anjing dan binatang lainnya, Sepeda motor atau truk yang berada dibelakangnya), kondisi permukaan jalan (lubang, pasir, olie, dll).

Belum lagi indera kuping yang mendengar segala sesuatu , disaat yang sama sipengendara harus memilah –memilah mana yang harus diperioritaskan sambil anggota tubuhnya digerakan dalam mengedalikan kendaraannya. 
 
Jika ini direview, baru kita menyadari mengoperasikan sebuah sepeda motor adalah pekerjaan multi-tasking yang luar biasa, jika tanpa pedoman yang strategis apakah ini masuk akal? 
 
Faktanya ya, kebanyakan dari kita hingga saat ini mengendarai motor sebatas dari pengalaman, tindakan – tindakan menyikapi rintangan dan bahaya hanya sebatas berdasarkan insting mata dan faktanya kita masih selamat ........ apa artinya?. Mungkin ini harus dikoreksi kedepan, ini bukan semata karena keberuntungan!
 
Pengendara, harus mudah mengindetifikasi dan mampu menyikapi segala kelompok bahaya Eksternal - Internal nya. 
 
Kelompok Bahaya Eksternal mudah di indikasi melalui indera, namun Bahaya Internal seperti kemampuan berkendara, keletihan, Karakter mental, problem yang sedang dialami sulit dikendalikan oleh kebanyakan, ini melibatkan peran psikis. 
 
Dalam beberapa kecelakaan lalulintas, sipengendara ternyata adalah newbie dan mengendara dengan kecepatan yang tinggi, dalam hal ini sipengendara mengendara diatas kemampuannya, seorang biker harus mengendarai sesuai kemampuannya “ride with your own style”, pengendara harus paham dan disiplin akan hal ini. 
 
Selain itu, pengendara harus melatih untuk menganalisa  apa yang tertangkap inderanya dan memutuskan tindakan apa yang tepat untuk dilakukan dan kemudian bereaksi dengan tepat dan cepat, pengendara harus membiasakan untuk mendapatkan info dan mengenal dari awal (antisipatif) atas segala bahaya dan potensi resiko yang dihadapinya, intinya seluruh aksi yang dilakukan diawali dari sebuah proses analisa bukan spontan ataupun refleks, secara sederhana: Think & Act! (JDDC)
Kolumnis adalah fitur citizen journalism, setiap konten (teks, foto, video dan infografis) menjadi tanggung jawab kolumnis (penulis) itu sendiri. Redaksi Otojurnalisme.com tidak bertanggungjawab atas segala tuntutan dari pihak manapun atas konten yang ditayangkan oleh kolumnis.
SHARE THIS ARTICLE :

Profile

Jusripulubuhu
Jusripulubuhu.otojurnalisme.com

Join Date : Senin, 30/01/2017 19:18

Pojok Kolumnis


ARIPITSTOP
Aripitsto
Elang
Elang
Dhika
Dhika
Mr. OtoMen
Mr. Otome
SW218
Sw218
Jusripulubuhu
Jusripulu
Bagjaisme
Bagjaisme
Cah Bagus
Cah Bagus

Video

logo1

OTOJURNALISME.COM adalah portal berita otomotif pertama di Indonesia yang mengkolaborasikan konten JURNALISTIK dan ulasan para KOLUMNIS yang expert di bidang otomotif
Alamat : Jl. Tanjung Barat Raya No. 11 A Jakarta Selatan - DKI Jakarta - Indonesia
Telp: 021-22701245
email: redaksi@otojurnalisme.com
Facebook
Twitter